oleh

Masuk Dalam Manifest Sriwijaya Air SJ-182, Buruh di Kosambi Ini Masih Hidup

BANTENPRO.ID, TANGERANG – Pesan dan panggilan masuk di ponsel Sarah Beatrice Alomau nyaris tak pernah berhenti sepanjang Sabtu-Minggu (09-10/01/2021).

Perempuan buruh di Pergudangan 8, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, itu kaget namanya disebut-sebut menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Bahkan orang tua dan saudara Sarah pun histeris saat menghubunginya.

Mereka mengira perempuan 19 tahun tersebut turut menjadi korban. Padahal, saat itu kondisi Sarah baik-baik saja. Usut punya usut, pangkal persoalannya adalah penggunaan KTP Sarah oleh seorang temannya.

Melansir Jawa Pos, menurut Sarah, yang menggunakan KTP miliknya adalah temannya asal Flores bernama Shelfi Ndaro (24). Penggunaan kartu identitas itu tanpa sepengetahuan Sarah.

“Saya gak tau, kan saya lagi berangkat kerja. Saya juga gak tau dompet dan KTP saya ditinggal di rumah. Apa dia scan atau foto, saya gak tau,” katanya.

Shelfi Ndaro merupakan teman sekantor Sarah di salah satu perusahaan pabrik kertas nasi di Kawasan Pergudangan 8, Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Mereka bertetangga kos.

Menurut Sarah, temannya itu tidak pernah meminta izin untuk meminjam KTP-nya.

“Dia bekerja seperti saya sebagai (di bagian, Red) molding . Dia tidak pinjam KTP atau fotokopi KTP,” ungkapnya.

Khawatir muncul persoalan, Sarah pun meminta bantuan praktisi hukum untuk mengurusnya.

Seperti diberitakan IDN Times, kuasa hukum Sarah Beatrice Alomau, yakni J Richard Siwoe, menyatakan identitas itu dipakai tanpa seizin Sarah dalam penerbangan itu. Richard mengatakan, yang menjadi penumpang dengan menggunakan identitas Sarah tanpa izin merupakan teman satu kontrakannya, yakni Shelfi Ndaro.

Sarah sendiri berasal dari Nusa Tenggara Timur yang saat ini berdomisili di wilayah Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

“Jadi itu ceritanya, Shelfi Ndaro pakai nama Sarah. Jadi mereka berdua teman di tempat kerja di pergudangan 8, Tangerang. Kontrakan mereka berdekatan. Shelfi biasa datangi ke kos Sarah,” ujar Richard, Senin (11/01/2021).

Menurut keterangan Sarah, Shelfi memang sudah berencana melakukan perjalanan ke Pontianak dengan calon suaminya. Hanya, Sarah tak pernah tahu Shelfi memakai identitasnya untuk membeli tiket pesawat Sriwijaya dan diduga juga untuk proses swab test.

“Sarah tidak pernah tahu, identitasnya dipakai entah difoto atau digimanakan dia tidak tahu,” ujar Richard.

Dengan adanya kasus tersebut, Richard menjelaskan saat ini kondisi Sarah syok karena ada namanya dalam daftar penumpang pesawat nahas itu. Selain itu, melalui kuasa hukumnya, Sarah mempertanyakan protokol keamanan dan pengecekan identitas yang dilakukan pihak bandara serta Sriwijaya Air.

“Yang saya pertanyakan itu dia bisa pake kopian untuk perjalanan dan swab, kenapa orang tidak terbang kok namanya bisa dibawa. Yang ga bawa identitas asli bisa terbang,” ujar Richard.

Atas dasar itu, Richard mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian ini ke polisi dan Sriwijaya Air.

“Karena yang penumpang itu Shelfi bukan Sarah, Sriwijaya harus cari keluarga Shelfi untuk asuransi dan nama Sarah ini agar tidak distatus orang mati,” ujar Richard.

Sementara menurut keterangan Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan, pihaknya berkoordinasi dengan Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendalami hal itu.

“Juga nanti akan menanyakan kepada Disdukcapil apakah benar ada informasi atau laporan tentang penumpang pesawat Sriwijaya menggunakan KTP yang bukan miliknya,” ujar Ahmad seperti dikutip bantenpro.id dari IDN Times, Selasa (12/01/2021).

Tim Disaster Victim Identification (DVI), kata Ahmad, masih terus mengumpulkan data antemortem dan posmortem guna mengidentifikasi korban. Hasilnya nanti akan disesuaikan dengan dugaan penumpang yang menggunakan identitas palsu tersebut.

“Tim DVI bekerja mengumpulkan data antemortem, di antaranya data terkait identitas penumpang. Apakah ada kecocokan data tersebut dengan status korban,” ujarnya. (bpro)