oleh

Nama dan Alamat Pasien Covid-19 Bocor ke Publik

BANTENPRO.ID, PANDEGLANG – Warga dihebohkan dengan beredarnya sejumlah nama yang diduga merupakan pasien Covid-19 di Kabupaten Pandeglang. Data pribadi itu disebarluaskan secara bebas di sejumlah WhatsApp grup masyarakat Pandeglang.

Melansir detikcom, Sabtu (16/01/2021), seorang warga Kecamatan Cibaliung, NR (32), kaget dan merasa dirugikan karena data beserta nama ibunya terpampang dengan jelas setelah dinyatakan positif Covid-19, beberapa waktu silam.

“Jelas dirugikan lah, soalnya itu nama jelas banget. Saya kan niatnya mau merawat ibu pas isolasi mandiri di rumah, tapi jadi enggak tenang karena data itu tersebar,” kata NR.

NR mengaku menerima data itu sekitar dua minggu yang lalu berbarengan dengan status ibunya yang dinyatakan positif Covid-19. Data itu, dia dapatkan secara bebas di grup WA perkumpulan pemuda di kampungnya.

Tadinya, NR menganggap data yang dia terima itu hanya berita bohong. Namun, setelah dia telusuri lagi, rupanya ada nama ibunya di dalam data itu lengkap beserta alamat, nomor KTP hingga tempat asal pemeriksaan sampel Corona.

“Tadinya belum terlalu percaya, tapi pas teman ngehubungin dan nanya ke saya ada yang kenal enggak nama di data itu, saya kaget ada nama ibu saya ternyata. Ini kok bisa tersebar luas gitu ya,” ucap NR

Sejak kemunculan data berjudul ‘Hasil Positif 30 Des Buat Puskemas’ tersebut, NR mengaku harus menghadapi kondisi di mana para tetangganya menjadi ketakutan dan menjauh dari rumahnya. Padahal, dia sedang membutuhkan dukungan agar ibunya saat itu bisa sembuh dari Covid-19.

“Tapi Alhamdulillah, sekarang ibu saya sudah dinyatakan sembuh. Kemarin sudah isolasi mandiri di rumah, terus hasil tes terakhirnya dinyatakan negatif,” tutur NR.

Dalam rekapan data tersebut, memang dicantumkan secara jelas identitas warga Pandeglang yang diduga terkonfirmasi kasus Corona. Mulai dari nama, nomor KTP, alamat hingga tempat pemeriksaan sampel di sejumlah fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan itu meliputi Puskesmas Sindangresmi, Angsana, Labuan, Panimbang, Cigeulis, Cibaliung, Munjul, Saketi, Menes, Jiput, Sobang dan Cikeusik

Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Pandeglang Achmad Sulaeman membenarkan data tersebut berasal dari sejumlah puskesmas di Pandeglang. Dia beralasan data itu disebar agar masyarakat bisa lebih waspada karena ada yang positif Covid-19 di lingkungannya.

“Itu memang data lama, tadinya hanya untuk kebutuhan Satgas saja. Tapi kalau udah terlanjur begitu (bocor di publik), enggak apa-apa juga hitung-hitung untuk kewaspadaan kita bersama,” kata Achmad.

Tadinya, kata Sulaeman, data itu sengaja disebar di lingkungan satgas supaya masyarakat di Pandeglang lebih waspada terhadap lingkungannya. Namun, dia tidak menyangka datanya bisa tersebar luas hingga akhirnya disetop lantaran menuai kritik di lapangan.

“Betul, sebenarnya itu hanya untuk konsumsi internal Satgas doang. Masalahnya anggota Satgas kan banyak, jadi kita engga tahu siapa yg nyebarin,” katanya.

Sementara, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengecam terjadinya kebocoran data warga yang diduga merupakan pasien positif Covid-19 ini. IDI menegaskan, data tersebut seharusnya bisa dijaga di lingkungan Satgas hingga tenaga kesehatan.

“Kami jelas mengecam. Karena tentunya, ini tidak bisa dibenarkan apalagi sampai terjadi kebocoran begitu,” kata Ketua IDI Pandeglang Darmawan Shopian dikutip dari detikcom, Sabtu (16/01/2021).

Meskipun demikian, Dadang enggan mencari kambing hitam atas terjadinya kebocoran data tersebut ke publik. Sebab, saat ini para tenaga kesehatan dan pemerintah daerah sedang fokus menekan penyebaran virus Corona, khususnya di Pandeglang.

“Saya bisa pastikan, untuk dari IDI sudah sangat menjaga dengan ketat begitu juga dari tenaga medisnya. Kami memang punya data itu tapi hanya untuk kepentingan tracing dan percepatan supaya bisa menekan meluasnya penyebaran,” ujarnya.

Terkait data pasien, menurut Dadang kebocoran itu masih bisa dimaklumi jika memang tujuannya untuk kepentingan bersama. Sebab menurut informasi yang dia terima, saat ini sudah ada aturan baru yang memperbolehkan data itu dipublikasi secara luas ke publik.

“Sudah ada aturan barunya dari pemerintah dan itu boleh (dipublikasi) kalau memang kepentingannya untuk edukasi. Tapi, saya masih cari lagi aturannya, karena saat ini fokus kita kan lebih ke hal lain apalagi setelah adanya lonjakan kasus baru di Pandeglang,” tuturnya. (bpro)

 

Sumber: detikcom