oleh

Sulitnya Mencari Kamar Kosong, Hidup dan Mati bak Undian Nasib

BANTENPRO.ID, TANGERANG – Kasus Covid-19 yang belum terkendali di wilayah Tangerang Raya, yakni Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, membuat ketersediaan ruang perawatan menjadi barang mewah.

Warga kesulitan mendapat ruang perawatan. Pada akhirnya, hidup dan mati seseorang berlanjut bak undian. Mereka yang bertahan ditentukan oleh seberapa besar keberuntungan mendapat ruang perawatan.

Undian nasib itu pernah dilalui Serafin Pauline (22), warga Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), pada awal Januari 2021. Melansir Kompas, Minggu (18/01/2021), Pauline kala itu kebingungan mencarikan rumah sakit untuk ayahnya yang tertular Covid-19. Saat itu, dokter menilai ayah Pauline cukup menjalani isolasi mandiri.

Akan tetapi, kondisi ayah Pauline memburuk hingga pada 8 Januari 2021, saturasi oksigen dalam tubuhnya terus menurun. Hasil pemeriksaan pada paru-paru juga menunjukkan pneumonia berat. Terlebih, ayah Pauline punya riwayat penyakit diabetes dan hipertensi.

”Dokter kemudian merekomendasikan kami untuk mencari rumah sakit,” ujar Pauline dikutip dari Kompas.

Pauline sekeluarga memutuskan membawa sang ayah ke Rumah Sakit Eka Hospital di Bumi Serpong Damai (BSD), Kota Tangsel. Di sana, ayah Pauline langsung mendapatkan pertolongan pertama di instalasi gawat darurat (IGD). Pauline mengaku bersyukur bisa mendapatkan tempat di IGD.

Menurut dia, ruang IGD Eka Hospital saat itu penuh. Dari yang ia saksikan, pihak rumah sakit sampai harus menolak beberapa pasien yang datang. Oleh sebab itu, Pauline merasa amat beruntung bisa tiba di IGD di waktu yang tepat.

Masalah tidak sampai di situ. Kondisi ayah Pauline yang memburuk membuatnya tidak cukup hanya dirawat di IGD. Ayah Pauline harus dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) dengan peralatan yang lengkap.

Sampai di sana, Pauline bergerak mencari informasi ketersediaan ruang ICU ke rekan-rekannya. Ia menelepon sejumlah rumah sakit. Dalam upaya itu, ia sempat dilanda kepanikan.

”Saat saya telepon beberapa rumah sakit, pilihan yang ada cuma tiga. Pertama, telepon saya tidak dijawab. Kedua, petugas bilang ICU di sana sudah penuh. Ketiga, rumah sakit itu tidak punya ruang ICU,” katanya.

Pauline sempat mencari ketersediaan ruang ICU hingga ke rumah sakit di daerah Lebak, tetapi tak membuahkan hasil. Selain itu, Rumah Sakit Fatmawati di Jakarta Selatan juga coba ia hubungi. Upaya itu juga kandas karena daftar tunggu ICU di RS Fatmawati mencapai 30 orang.

Dewi Fortuna nyatanya masih menaungi Pauline. Di saat kebingungan akibat belum mendapatkan ruang perawatan, sekitar 1,5 hari kemudian pihak RS Eka Hospital menginformasikan ada ruangan ICU yang kosong. Kabar tersebut disambut dengan sukacita oleh Pauline. Sang ayah pada akhirnya diboyong dari bangsal perawatan IGD ke ruang ICU yang memadai dan hingga saat ini kondisinya perlahan membaik.

Kematian Bertambah

Andai saja tidak beruntung mendapatkan ruang perawatan dengan segera, ayah Pauline bisa saja menjadi korban Covid-19. Tabel angka kematian akibat Covid-19 di Kota Tangsel seolah tidak pernah berhenti berubah.

Setiap hari, angka-angka di dalam tabel tersebut terus bertambah. Pemerintah Kota Tangsel bersama Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang hingga Minggu (17/01/2021) masih berjibaku mengerem laju penularan dan angka kematian akibat Covid-19.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Tangsel per Minggu (17/01/2021) melaporkan ada enam kematian baru akibat Covid-19. Dengan begitu, total korban meninggal yang terkonfirmasi Covid-19 menjadi 237 orang.

Melansir Kompas, Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menyebut tingkat kematian kasus (case fatality rate/CFR) Covid-19 di wilayahnya sudah mencapai 5 persen atau di atas CFR nasional (2,9 persen).

Sejalan dengan itu, penambahan kasus positif Covid-19 di Kota Tangsel juga belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Dalam sepekan terakhir, 11-17 Januari 2021, terdapat penambahan 254 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Total jumlah kasus terkonfirmasi positif di Tangsel telah menembus 4.323 kasus.

Penambahan jumlah kasus Covid-19 mengakibatkan ruang perawatan di 23 rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Tangsel penuh hingga kini. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tangsel pada 16 Januari 2021, keterisian tempat tidur di ruang ICU yang berjumlah 33 unit di seluruh Kota Tangsel masih 100 persen. Demikian pula keterisian tempat tidur di ruang isolasi biasa hanya tersisa 33 unit dari total 509 unit.

Kondisi itu memberikan gambaran bahwa apa yang dialami Pauline dalam mencari ruang perawatan bagi ayahnya hanya serpihan dari banyak kisah serupa yang belum muncul di permukaan. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Tangerang.

Seperti diberitakan Kompas,  Juru bicara Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengungkapkan, pihaknya mulai kesulitan mencarikan tempat tidur bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Untuk saat ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyediakan sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19, di antaranya RSU Kabupaten Tangerang, RS Siloam Kelapa Dua, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten.

Hendra mengatakan, tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit di Kabupaten Tangerang telah mencapai 90 persen lebih. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banten Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, jumlah tempat tidur pasien Covid-19 di Banten secara keseluruhan saat ini 3.690 unit dengan 168 ruang perawatan intensif (ICU).

“Tingkat keterisian ruang ICU di Banten sudah melampaui 96 persen, sedangkan ruang isolasi biasa sudah terisi 92 persen,” kata Ati dikutip dari Kompas.

Memutus Penularan

Pemerintah daerah di Tangerang Raya sepenuhnya menyadari, ikhtiar menambah tempat tidur pasien Covid-19 bakal sia-sia apabila tak memutus penularan Covid-19 di hulu. Oleh sebab itu, pada masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), Gubernur Banten Wahidin Halim memanfaatkannya untuk mendisiplinkan warga menerapkan protokol kesehatan.

Selama masa PPKM, Wahidin meminta TNI dan Polri lebih tegas menindak masyarakat yang tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan. Langkah itu diambil karena sumber utama penularan Covid-19 dinilai ada di tengah masyarakat.

“Kami harus pastikan masyarakat mengikuti aturan. Jadi kali ini kami akan lebih tegas pelaksanaannya (PPKM),” kata Wahidin.

Perintah Wahidin itu diterjemahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kota Tangsel dengan menggencarkan patroli. Jika patroli sebelumnya hanya dilaksanakan sekali dalam sehari, pada masa PPKM frekuensinya ditambah menjadi dua kali dalam sehari. Seluruh taman yang ada di Kota Tangsel juga ditutup sementara karena kerap menjadi tempat berkumpul warga.

Hanya saja, seperti diberitakan Kompas, masyarakat masih tetap mendatangi taman-taman. Sebagai contoh di Taman Perdamaian, BSD, Kota Tangsel. Pihak Satpol PP sudah menyegel taman tersebut, tetapi warga kemudian merusak segel itu.

Kepala Seksi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Tangsel Muchsin Al Fachry yang dikonfirmasi terkait hal tersebut mengaku telah berupaya semaksimal mungkin mendisiplinkan warga.  “Kami sudah tutup taman-taman, tapi ya begitulah warga. Walau sudah ditutup, ternyata tetap datang lagi,” katanya.

Kedatangan Vaksin

Mengharapkan vaksin Sinovac sepenuhnya berperan dalam pengendalian Covid-19 juga bukan langkah yang bijaksana. Sebab, vaksinasi membutuhkan waktu. Pada tahap pertama, Provinsi Banten mendapat jatah 86.000 dosis vaksin Sinovac. Untuk saat ini yang baru tiba dari pemerintah pusat baru 14.000 dosis vaksin. Sisa kekurangan jatah itu akan dikirimkan pada pekan ketiga Januari 2021.

Dari 14.000 dosis vaksin yang telah tiba, sebanyak 8.920 dosis diperuntukkan bagi tenaga kesehatan di Tangsel, sementara 3.380 lebih dosis vaksin untuk tenaga kesehatan di Kota Serang. Artinya, waktu bagi masyarakat umum untuk divaksinasi masihlah lama. Padahal, vaksin baru akan bekerja dalam skala komunitas.

Sementara untuk mengulur waktu sembari menanti vaksin terdistribusi secara merata ke masyarakat, Pemerintah Provinsi Banten berjanji akan menggencarkan surveilans. Penambahan tempat tidur bagi pasien Covid-19 juga tetap dilakukan. Penegakan disiplin bagi masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan akan ditingkatkan.

”Yang penting sekarang adalah kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Jangan sampai sakit,” ucap Gubernur Banten Wahidin Halim pada satu kesempatan.

Apabila tidak demikian, kisah pahit tentang kesulitan warga mencari ruang perawatan bakal terus terulang. Bersamaan dengan itu, roda nasib bekerja. Menjaga diri agar tidak tertular menjadi cara teraman. Jangan sampai keluarga kita menjadi korban Covid-19 karena kurang beruntung belum mendapatkan ruang perawatan. (bpro)

 

Sumber: Kompas.id