oleh

Peluang Gelora Masuk Partai Papan Tengah Terbuka Lebar di Pemilu 2024

bantenpro.id, Jakarta – Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau Partai Gelora optimistis akan masuk papan tengah dalam pemilu 2024 mendatang. Keyakinan tersebut diperoleh lantaran Partai Gelora menilai belum ada partai dominan dan mayoritas, serta masih terbukanya pasar perpolitikan Indonesia

“Setiap Pemilu sejak 1999 sampai dengan 2019 selalu muncul partai baru dan sejumlah partai baru bahkan bisa tampil sebagai kekuatan papan tengah dan bahkan papan atas,” ujar Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia dalam keterangan pers dikutip bantenpro.id, Kamis (25/02/2021).

Mahfuz mencontohkan, pada Pemilu 1999 muncul partai baru yaitu PDIP, PKB dan PAN. Berturut-turut ketiga partai meraih elektoral 33,7 persen, 12,6 persen dan 7,1 persen.

Pada Pemilu 2004, muncul partai baru yaitu Partai Demokrat (7,4%), PKS (7,3%), dan PBR (2,4%). Begitupun pada Pemilu 2014, Nasdem sebagai partai baru berhasil meraih 6,7 persen suara.

“Apakah partai baru berpeluang menjadi partai besar? Artinya, pasar politik Indonesia masih terbuka dan belum ada partai yang dominan atau mayoritas,” jelasnya.

Untuk itu, menurut mantan anggota DPR RI ini, ada beberapa faktor yang menentukan partai baru dapat menjadi besar. Faktor tersebut antara lain eksistensi teritorial, segmentasi pemilih, positioning partai, cara kerja berbasis dapil, popularitas, dan formasi pasukan tempur.

“Karena itu lakukan pemetaan dapil dengan cermat dari berbagai aspeknya, mulai tetapkan target suara dan kursi di dapil, dan penuhi faktor penentu kekuatan partai,” imbuh Mahfuz.

Lebih lanjut Mahfuz menjelaskan, Partai Gelora Indonesia lahir sebagai respons atas dinamika geopolitik global dan politik domestik yang berlangung. Pada level global, perubahan tatanan dunia sedang berlangsung.

Pandemi Covid-19 mempercepat proses perubahan tersebut sekaligus memicu terjadinya krisis multidimensi di hampir banyak negara.

Pada level domestik, mulai 2020 Indonesia akan mengalami bonus demografi sampai 2035. Pengalaman sejumlah negara, menurutnya, bonus demografi menjadi faktor pemicu kemajuan ekonomi dan bidang-bidang lain.

“Namun di saat bersamaan Indonesia mengalami kontradiksi sosial-politik, pembelahan ideologis politik di masyarakat bawah, elit politik yang pragmatis, keterbukaan informasi yang rentan menciptakan ketegangan dan konflik serta ketimpangan kesejahteraan dan liberalisasi ekonomi, dan makin terkekangnya demokrasi,” paparnya.

Mahfuz mengatakan bahwa ragam kontradiksi ini berpotensi melemahkan ketahanan nasional, menggoyahkan kedaulatan nasional dan mengancam eksistensi NKRI. Menurutnya, sudah banyak negara yang gagal akibat dinamika global tersebut.

“Sesungguhnya dengan modal perjalanan sejarah bangsa, kekayaan sumber daya alam, posisi geografis dan politik negara, Indonesia sangat berpeluang melakukan lompatan besar di tengah krisis global menjadi kekuatan besar dunia,” ucapnya. (bpro)

 

Sumber: Partai Gelora