oleh

Musim Hujan Telah Tiba, Satgas Bencana Banjir Disiagakan

BantenPro, Pandeglang – Musim hujan telah tiba. Ancaman bencana di Provinsi Banten pun datang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di Bumi Jawara ini.

Dilansir BantenPro.id dari kanal resmi RRI Banten, Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten Ayub Andi Saputra memastikan, BPBD telah menyiagakan personel dan perlengkapan ketika terjadi bencana.

“Persiapan BPBD, kami sudah memantau dari BMKG terkait curah hujan. Intinya kami selalu siap siaga, kami juga sudah siapkan 1 Satgas Kebencanaan Banjir yang terdiri atas 60 personel,” kata Ayub.

Apel kesiapsiagaan bencana juga sudah digelar bersama Balai Besar Wilayah Cidanau, Ciujung, dan Cidurian (BBWSC3) di Kabupaten Pandeglang, Senin (19/20/2020).

Ayub berharap, apel kesiapsiagaan tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan juga sinergitas antar instansi ketika bencana datang. Dengan begitu, masing-masing otoritas sudah mengetahui apa saja yang harus dilakukan kala bencana menerjang.

“Mudah-mudahan ke depan manakala ada kejadian bencana, antara instansi terkait bisa bekerja dengan sinergi saling bahu membahu terkait apa yang dibutuhkan masyarakat,” harapnya.

Apel juga dilakukan untuk merespons potensi bencana yang akan terjadi di wilayah Provinsi Banten. Terlebih musim hujan diperkirakan datang disertai fenomena La Nina.

Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah memeriksa pasukan saat apel kesiapsiagaan bencana beberapa hari lalu.

Kepala BBWSC3 Saroni Soegiarto menjelaskan, Provinsi Banten merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana paling tinggi di Indonesia. Mengingat 13 jenis bencana ada di bumi jawara.

“Dari 13 jenis bencana itu, yang paling dominan adalah bencana banjir, longsor, dan banjir bandang,” sebutnya.

Oleh karena itu, kata Saroni, perlu dibangun koordinasi lintas instansi sebagai persiapan penanggulangan kejadian bencana di Banten. Apalagi saat ini sudah mulai dihadapkan musim penghujan sehingga perlu kesiagaan ekstra untuk mengurangi dampak bencana.

“Koordinasi ini harus melibatkan seluruh elemen mulai dari pemerintah serta masyarakat yang berpotensi terdampak, harus diberikan peringatan dini apabila kita telah membaca tanda-tanda kejadian bencana,” bebernya.

Adapun untuk mendukung kesiapsiagaan bencana, BBWSC3 menyiagakan sejumlah peralatan berat seperti excavator sebanyak enam unit, enam unit kendaraan alat angkut, sebuah kapal keruk atau dredger, serta dua unit mesin perahu.

“Kita kan tidak tahu bencana terjadi kapan dan bentuknya apa, untuk itu kita harus siap sedia semua. Mulai dari peralatan alat berat, alat angkut. Kalau tidak siap kan repot, yang jadi korban masyarakat,” terangnya.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Banten Wida Nurfaida mengungkapkan, pihaknya juga sudah menyiapkan berbagai alat berat yang disiagakan dimasing-masing PPK. Terutama di lokasi rawan banjir dan longsor, seperti kawasan perbatasan Rangkasbitung-Bogor.

“Kami sudah menyiagakan alat-alat berat dimasing-masing PPK yang siaga selama 24 jam. Terutama di lokasi yang rawan banjir dan longsor, seperti di wilayah Cigelung,” katanya.

Bukan hanya itu, jembatan-jembatan yang rawan juga sudah didata. Hanya saja dia menyebut, kondisi jembatan di Banten saat ini hampir seluruhnya sudah mantap sehingga diperkirakan tidak begitu terdampak ketika diterjang banjir.

“Kami juga sudah mendata jembatan-jembatan yang rawan, kami sudah terindikasi, karena kami selalu update. Mostly yang kategori di atas 3 di Banten sudah jarang,” ujarnya. (red/bpro)

 

Sumber: RRI