Kisah Manusia Silver, Rela Mengecat Tubuh Demi Menyambung Hidup

BANTENPRO.ID, TANGERANG – Lampu pengatur lalu lintas di traffic light salah satu ruas jalan di Kota Tangerang itu menyala hijau. Jojo (bukan nama sebenarnya) yang seluruh tubuhnya berkelir silver, bergegas jalan menepi. Di tengah terik matahari, dia duduk di pinggir jalan untuk beristirahat.

Sambil meletakkan wadah tempat uang, Jojo mulai menceritakan kisahnya menjadi manusia silver.
Kepada Bantenpro.id, Jojo bercerita bahwa aktivitasnya mencari peruntungan dengan menjadi manusia silver berawal setelah dia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di toko tempatnya bekerja sekitar setahun yang lalu.

Demi menyambung hidup dan untuk membiayai keluarga kecilnya, pemuda berusia 30 tahun ini pun memilih mengais rezeki di jalanan.

Dengan tubuh dicat silver, Jojo menarik perhatian pengendara jalan yang sedang mengantre di lampu merah. Dia beraksi menjadi patung atau bergerak patah-patah seperti robot.

Kemudian dia mendatangi satu per satu pengendara sambil menyodorkan wadah tempat uang. Dia tidak memaksa pengendara untuk memberi. Baginya, dikasih syukur, nggak dikasih juga tidak mengapa.

Penghasilan menjadi manusia silver menurut Jojo tidak menentu. Saat ini dalam sehari, kadang dia mampu mengumpulkan ‘saweran’ dari pengendara berkisar antara Rp50.000 sampai Rp100.000.

“Kalau dulu awal-awal saya menjadi manusia silver sih itu memang bisa sampai 500 ribu sehari. Tapi kan sekarang sudah banyak manusia silver di jalanan, penghasilan menurun,” ujar Jojo, Senin (23/11/2020).

Jojo sadar aktivitasnya menjadi manusia silver banyak risiko. Mulai dari kejaran petugas Satpol PP sampai alergi karena efek samping cat di tubuhnya.

“Cat yang saya pakai itu cat sablon dicampur minyak dan body lotion yang sachetan dan saya juga nggak tahu aman atau nggak. Tapi yang saya rasakan kadang gatal, panas. Kalau kena mata perih, sampai alergi saya pernah mengalaminya,” ujar Jojo.

Jojo yang berdomisili di Kota Tangerang ini juga menceritakan pengalaman pahitnya pernah ditangkap Satpol PP di daerah Kebayoran Jakarta kemudian dikirim ke daerah Bogor. Ketika itu dia memang beraksi menjadi manusia silver sampai ke daerah Kebayoran.

“Awalnya tubuh saya disemprot dulu pakai air dari selang yang sangat besar untuk dibersihkan sampai saya mental karena mereka juga nggak tahu cara bersihin catnya,” ujar Jojo.

Setelah cat di tubuhnya luntur, Jojo dibawa ke daerah Bogor karena pada saat itu Jojo tidak membawa kartu identitas seperti Kartu Tanda Penduduk.

“Mungkin kalau saat itu saya membawa KTP, saya dipulangkan ke rumah,” ujar Jojo.

Setelah kejadian itu, dia sempat merasa jera. Tapi karena mencari pekerjaan baginya cukup sulit, mau tidak mau dia kembali lagi ke jalan menjadi manusia silver.

“Kalau dibilang kapok ya kapok, tapi cari kerja susah. Sedangkan kalau saya berhenti menjadi manusia silver, tahu sendiri kalau nggak makan sehari bagaimana rasanya,” ujar Jojo.

Jojo adalah satu dari sekian orang yang mengais rezeki dengan menjadi manusia silver di lampu merah jalanan Kota Tangerang. Keberadaan manusia silver maupun anak jalanan lainnya seakan tak pernah hilang meski pemerintah daerah kerap menertibkannya. (mst/bpro)