Antara Krisis Pembelajaran dan Ancaman Penularan

bantenpro.id

BANTENPRO.ID, TANGERANG – Dunia pendidikan menghadapi pilihan yang sulit. Di satu sisi krisis pembelajaran akan terjadi jika pembelajaran jarak jauh dengan berbagai kendalanya semakin lama dijalankan. Namun, di sisi lain, kesehatan dan keselamatan anak didik, pendidik, dan tenaga kependidikan terancam jika kegiatan belajar mengajar tatap muka diberlakukan kembali.

Rencana kebijakan memberlakukan kembali sekolah tatap tersebut menimbulkan respons beragam dan masih menjadi polemik di masyarakat.

Hasil jajak pendapat bantenpro.id di minggu kedua Desember ini, tercatat suara publik Kota Tangerang terkait dengan sekolah tatap muka di tahun 2021.

Mayoritas responden (55,5 persen) secara tegas menyatakan tidak setuju dengan pembukaan sekolah tahun depan. Kemudian sebanyak 35,5 persen responden menyetujui jika sekolah memberlakukan kembali pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran mendatang. Sementara 9 persen responden menyatakan ragu-ragu.

Responden yang berpartisipasi dalam jajak pendapat bantenpro.id ini berasal dari berbagai kalangan seperti tenaga pendidik, orangtua siswa, mahasiswa, tenaga kesehatan, fisikawan sampai ibu rumah tangga.

Alasan utama yang diungkapkan oleh responden yang tidak setuju ini adalah karena masih tingginya kasus positif Covid-19. Kekhawatiran ini wajar mengingat sekolah juga berpotensi menjadi kluster penularan Covid-19. Mereka dibayang-bayangi ancaman penularan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Liza Puspadewi mengatakan angka positivity rate Covid-19 di Kota Tangerang mencapai 6 persen. Interaksi sosial warga seperti berkumpul menjadi penyumbang peningkatan kasus itu.

“Dengan jumlah pemeriksaan swab tes sebanyak 3.600. Jadi, positif rate tembus di angka 6 persen,” ujarnya seperti dikutip dari medcom.id, Selasa 1 Desember 2020.

Berdasarkan ketentuan WHO untuk pelaksanaan kegiatan masyarakat, angkanya harus kurang dari 5 persen dalam dua pekan berturut-turut.

Kekhawatiran orangtua akan kenaikan kasus Covid-19 juga diikuti oleh kecemasan terhadap kedisiplinan anak dalam menerapkan protokol kesehatan. Sebagian responden masih meragukan kedisiplinan anak-anak dalam menjalankan 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak).

Kerinduan bertemu dengan guru dan teman-teman setelah berbulan-bulan belajar dari rumah bisa membuat anak-anak lupa dengan 3M tersebut.

“Saya tidak setuju, dikarenakan banyak yang sudah tatap muka kembali namun malah banyak yang tertular Covid-19 seperti contoh di Sukaresik Pangandaran,” kata salah satu responden yang anaknya bersekolah di SDN Neglasari, Kota Tangerang.

“Karena penularan Covid-19 pada anak sekolah, kita tidak akan tahu dari mana asalnya. Banyak orang yang tidak mematuhi protokol memakai masker, orang dewasa banyak yang tidak patuh, apalagi anak-anak nanti yang banyak bercanda di kelas. Mereka pasti malah akan membuat mainan masker, bahkan tidak memakainya,” kata responden lainnya.

Alasan Kota Tangerang masih zona merah Covid-19 juga menjadi alasan sebagian responden tidak setuju sekolah tatap muka.

“Menurut saya (sekolah tatap muka) ini tidak bisa karena sekolah anak saya juga masih zona merah dan masih banyak orang-orang yang tidak taat oleh protokol kesehatan yang sudah diperintah oleh pemerintah dan Satgas covid-19 maupun fasilitasnya,” kata responden yang memiliki anak di bangku SMA.

Di sisi lain, sebanyak 36 persen responden menyetujui jika sekolah memberlakukan kembali pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran mendatang.

Beberapa alasan diungkapkan oleh responden yang mendukung pembukaan sekolah kembali. Alasan yang menonjol diungkapkan responden adalah ketidakefektifan pembelajaran melalui daring (dalam jaringan) atau online serta kekhawatiran menurunnya kualitas pendidikan karena terjadi krisis pembelajaran.

“Setuju, karena menurut saya sekolah via online  tidak membantu orang tua dalam mendidik anaknya. Murid juga kurang berkembang dalam memahami pelajaran,” pendapat responden.

“Sejutu. Dikarenakan pembelajaran jarak jauh sangat tidak efektif. Kebanyakan guru hanya memberi tugas dan kurang memperhatikan siswa yang tidak paham atas materi yang diberikan,” kata responden lainnya.

Responden-responden lainnya yang mendukung pembukaan sekolah kembali beralasan belajar jarak jauh tidak efektif dan akan melahirkan krisis pembelajaran.

“Setuju sekolah dengan tatap muka kembali. Dikarenakan dengan sekolah tatap muka akan menunjukkan kepribadian anak yang langsung dididik oleh guru secara langsung. Pembelajaran secara langsung juga memberikan pengetahuan secara luas. Berbeda dengan secara online anak hanya lebih mementingkan muncul muka atau sekadar hadir tanpa memperhatikan pelajaran yang dijelaskan oleh guru,” ujar responden berstatus mahasiswa.

Di samping itu, 9 persen responden juga masih meragukan kesiapan sekolah dan guru dalam menjalankan protokol  kesehatan serta pengawasan terhadap anak didiknya. Berbagai alasan tersebut menjadi pertimbangan responden belum rela melepas anaknya jika sekolah dibuka kembali awal tahun depan.

Responden mengalami dilema antara setuju sekolah tatap muka dibuka kembali atau tetap melalui daring. Jika sekolah tatap muka, tak ada yang menjamin pengawasan terhadap anak dapat berjalan baik.

“Jajan sembarangan imun cepat turun sehingga mudah tertular. Sedang banyak orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 di sekitarnya. Tapi kalau sekolah online, kelemahannya anak tidak bisa menyerap ilmu secara maksimal,” kata salah satu responden.

Dilema pembukaan sekolah tatap muka tahun depan melahirkan beberapa usulan terkait kebijakan aktivitas belajar mengajar. Beberapa responden mencetuskan ide untuk tetap belajar tatap muka dengan syarat protokol kesehatan ketat dan khusus untuk tingkatan pendidikan tertentu.

“Ketika sekolah online ada tugas ditunda, akibatnya banyak tugas menumpuk sehingga kewalahan ketika mau mengerjakan. Solusinya menurut saya kalau pada jenjang atau tingkat sekolah tertentu bisa dilakukan tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. Untuk tingkatan kelas tertentu bisa online,” kata responden berlatar belakang guru ini.

Pemkot Rumuskan Aturan Sekolah Tatap Muka

Mengacu pada surat edaran dari Menteri Pendidikan terkait pemberlakuan kembali sekolah tatap muka pada awal tahun 2021 mendatang, Pemerintah Kota Tangerang sampai hari ini masih melakukan pembahasan serta persiapan untuk menghadapinya.

Sesuai siaran pers yang diterima bantenpro.id, Pemkot Tangerang akan mengeluarkan aturan dasar dalam menerapkan kembali pembelajaran tatap muka tersebut.

“Pemkot akan mengeluarkan aturan dasar terkait penerapan protokol kesehatan di sekolah dalam melakukan sekolah tatap muka,” ucap Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah pada saat membuka kegiatan Edukasi Online Protokol Kesehatan di Sekolah secara daring, Senin (14/12/2020).

Selanjutnya, mengenai penambahan serta pengembangan protokol kesehatan diserahkan kepada sekolah masing-masing untuk meningkatkan level keamanannya karena harus sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah.

Arief menjabarkan agar pihak sekolah benar-benar menjaga pelaksanaan protokol kesehatan berjalan dengan baik dan benar jika sekolah tatap muka benar-benar dilaksanakan.

“Jangan lalai, protokol kesehatan harus dijalankan dengan baik dan benar. Keselamatan anak-anak, guru dan semua yang terlibat dalam proses belajar mengajar merupakan prioritas utama,” sebut Arief.

Menurut Arief, Pemerintah Kota Tangerang saat ini sedang mempersiapkan segala sesuatunya terkait pembelajaran tatap muka untuk di wilayah Kota Tangerang agar bisa berjalan dengan baik dan aman.

“Pemkot Tangerang sedang mempersiapkan skemanya, tentunya kita ingin kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dengan aman,” terang Arief.

Arief juga menegaskan, pembelajaran tatap muka butuh komitmen kuat antara penyelenggara sekolah, pemerintah daerah, serta peran orang tua terkait pembelajaran tatap muka yang akan dilakukan.

“Yang diutamakan adalah keselamatan murid dan jangan sampai protokol kesehatan diabaikan guna mencegah terjadinya kluster baru yang akan mendorong timbulnya kluster keluarga,” ujar Arief. (bpro)




Tinggalkan Balasan