Menu

Mode Gelap

Daerah · 12 Feb 2021 08:03 WIB

Tidak Efektif Pakai Masker Kain di Lingkungan Penularan Tinggi


 Tidak Efektif Pakai Masker Kain di Lingkungan Penularan Tinggi Perbesar

bantenpro.id, Jakarta – Kementerian Kesehatan menyatakan penggunaan masker kain tidak disarankan untuk digunakan di lingkungan dengan tingkat penularan Covid-19 yang tinggi. Efektivitas serta daya filtrasi yang rendah membuat orang yang memakai masker kain tetap rentan tertular penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 tersebut.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Budi Sylvana dalam acara virtual Bincang-bincang Seputar Covid-19 Serial XXII di Jakarta, Kamis (11/02/2021), mengatakan, penggunaan masker kain, terlebih masker dengan bahan scuba, amat tidak disarankan di tengah kondisi penularan Covid-19 yang tinggi. Masker tersebut dinilai tidak efektif untuk menyaring paparan virus SARS-CoV-2.

Dinamika dari virus penyebab Covid-19 terus berubah, termasuk pada tingkat penularannya. Masyarakat saat ini sangat disarankan untuk menggunakan masker bedah. Masker kain mungkin bisa digunakan, namun sebagai lapisan luar saja. Yang jelas, sangat tidak disarankan menggunakan masker scuba karena tingkat filtrasinya nol atau sama dengan tidak menggunakan masker.

“Dinamika dari virus penyebab Covid-19 terus berubah, termasuk pada tingkat penularannya. Masyarakat saat ini sangat disarankan untuk menggunakan masker bedah. Masker kain mungkin bisa digunakan, namun sebagai lapisan luar saja. Yang jelas, sangat tidak disarankan menggunakan masker scuba karena tingkat filtrasinya nol atau sama dengan tidak bermasker,” katanya seperti dikutip bantenpro.id dari Kompas, Jumat (12/02/2021).

Ia menambahkan, penggunaan dua masker kain sekaligus juga bisa menjadi pilihan untuk memperkuat perlindungan dari transmisi virus. Masker kain yang digunakan sebaiknya terdiri atas tiga lapis.

Baca Juga :  Sebaran 2.696 Covid-19 pada 1 November, Banten Sumbang 90 Kasus

Selain pemilihan jenis masker, masyarakat perlu memperhatikan cara pemakaiannya. Pastikan sebelum menggunakan masker, tangan sudah dibersihkan dengan cara cuci tangan ataupun menggunakan hand sanitizer.

Melepas masker juga perlu dilakukan dengan baik. Masker kain pun harus selalu diganti setelah maksimal empat jam penggunaan. Setelah digunakan, sebaiknya langsung dicuci dengan deterjen.

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal The Lancet pada 1 Juni 2020, kemampuan masker medis atau masker bedah dinyatakan setara dengan memakai masker kain dengan 12-16 lapis. Penggunaan masker medis ini lebih efektif untuk mengurangi risiko penularan. Efektivitas penyaringan partikel ukuran 0,01 mikron berkisar 30-95 persen.

Risiko kebocoran dari paparan virus tetap bisa terjadi  melalui bagian kanan dan kiri masker yang  bercelah. Karena itu, masyarakat perlu memilih ukuran yang sesuai dengan bentuk wajah agar masker mampu menutup bagian hidung dan mulut dengan baik.

Namun, Budi menuturkan, masih banyak warga yang terkendala pada akses masker medis. Tidak semua orang mampu membeli masker tersebut. Apalagi, masker medis hanya bisa digunakan satu kali. Sementara kondisi pandemi ini menuntut warga untuk lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan makan bagi keluarganya.

”Pemerintah berupaya untuk selalu mengedukasi dan membagikan masker medis di titik-titik yang rentan terhadap penularan, seperti pasar. Namun, pemerintah tidak mampu jika harus memenuhi kebutuhan masker medis untuk 260 juta penduduk. Dukungan dari semua pihak sangat diperlukan,” tuturnya.

Baca Juga :  Saban Hari Terima Tamu, Wakil Wali Kota Tertular Covid-19

Kepala Seksi Alat Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Jhonson Hotsar, seperti diwartawan Kompas, menyampaikan, pemilihan masker juga amat penting pada tenaga kesehatan yang betugas menangani Covid-19. Standar penggunaan masker respirator atau yang juga dikenal dengan masker N95 perlu dipatuhi. Masker jenis ini mampu memfiltrasi minimal 90 persen partikel di udara.

Pemilihan produk masker N95 pun perlu selektif. Pasalnya, tingginya permintaan pasar terhadap masker jenis ini turut menyebabkan tingginya masker palsu yang beredar di masyarakat. Sebelum membeli masker jenis ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain terdapat badan tersertifikasi yang menyetujui merek dagang tersebut sebagai masker respirator medis serta telah melalui uji ketahanan penetrasi cairan.

”Untuk menghindari penggunaan masker palsu, sebaiknya kita membeli masker dari distributor resmi. Jika memang ada masker bantuan yang diberikan, lebih baik diseleksi terlebih dahulu karena belum tentu itu  telah teruji. Disarankan untuk menggunakan masker yang didistribusikan oleh pemerintah karena sudah teruji,” kata Jhonson.

Pemilihan masker N95 tersebut, menurut Budi, juga amat penting karena pengujian oleh tim ahli pencegahan dan pengendalian infeksi menunjukkan adanya masker dengan tingkat filtrasi tidak optimal. Dalam pengujian itu, ada lebih dari 20 produk masker N95 yang diuji. Namun, hanya delapan produk yang memiliki tingkat filtrasi lebih dari 90 persen. Bahkan, terdapat produk masker yang memiliki tingkat filtrasi kurang dari 70 persen.

Baca Juga :  18.997 Kasus di Banten, Tangerang Raya Zona Merah Covid-19

”Saat ini, pengujian pada tingkat filtrasi ini masih terus dilakukan. Harapannya, dalam waktu dekat, kami bisa segera menyampaikan kepada masyarakat luas, terutama petugas kesehatan, mengenai produk masker N95 yang memiliki tingkat filtrasi tinggi,” ujarnya.  (bpro)

 

Sumber: Kompas

 

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Dishub Kota Tangerang Akui Belum Maksimal Tegakkan Perwal Jam Operasi Truk Tanah

8 Maret 2024 - 21:25 WIB

Mahasiswa Demo Dishub Kota Tangerang soal Operasional Truk Tanah

8 Maret 2024 - 15:16 WIB

Acara Sosialisasi Undian Gratis Berhadiah Dinsos Dianggap Tak Ramah Difabel

7 Maret 2024 - 20:38 WIB

Panduan Undian Berhadiah dan Pengumpulan Dana, Ini Aturan dan Syaratnya

7 Maret 2024 - 20:30 WIB

KPU Kota Tangerang Akhiri Drama Rekapitulasi Suara Pemilu 2024

7 Maret 2024 - 17:03 WIB

Samsat Kalong: Layanan Pajak Inovatif Selama Ramadan di Kota Tangerang

7 Maret 2024 - 15:53 WIB

Trending di Daerah