Satu Keluarga Terkurung Tembok Kawat Duri Gegara Sengketa Lahan

bantenpro.id

bantenpro.id, Tangerang – Sebuah video beredar viral menampilkan penutupan akses rumah warga di Kota Tangerang. Penghuni rumah tersebut terpaksa harus menggunakan tangga untuk memanjat pagar tersebut.

Dalam video yang viral itu, terlihat juga pekerja sedang menyelesaikan pagar beton. Disebut, lokasi ada di Kampung Brebes, Kecamatan Ciledug.

Dalam video itu dinarasikan, di balik pagar keliling beton itu, ada satu keluarga. Sehingga, keluarga tersebut tidak bisa mudah keluar masuk. Mereka harus memanjat beton dengan tinggi sekitar dua meter.

Informasi yang diperoleh bantenpro.id, penutupan akses rumah warga itu diduga dipicu persoalan sengketa lahan. Rumah yang terkurung tembok itu dihuni oleh Hadianti dan keluarganya.

Seperti diwartakan Tempo Minggu (15/03/2021), sengketa lahan yang berkepanjangan ini membuat Hadianti dan anak cucunya kini hidup terkurung pagar kawat duri setinggi dua meter. Masalah ini muncul tak lama setelah suaminya, Al-Munir Muchtar meninggal.

Hadianti mengatakan tidak tahu alasan kenapa akses rumahnya dipagari karena tidak tahu pembicaraan almarhum dengan pemilik lama.

“Saya bersedih suami belum seratus hari meninggal, cucu pernah jatuh naik bangku kayu keluar pagar,” kata Hadianti dikutip dari Tempo.

Hadianti mengatakan almarhum suaminya pernah mengatakan masalah itu sudah beres karena jalan masuk ke rumah mereka sudah dihibahkan oleh pemilik lama.

“Bapak bilang jalan sudah dihibahkan. Tapi kata orang itu, Bapak cuma beli bangunan dan kolam renang tapi tidak beli jalan,” ujar Hadianti.

Kronologi sengketa tanah ini berawal saat Munir menang lelang aset dari Bank Danamon berupa komplek kolam renang dan bangunan dua tingkat untuk gym, aerobik serta fitnes. Keluarga Munir lantas menempati bangunan tersebut sejak 10 tahun silam.

Kolam renang pernah beroperasi dalam hitungan bulan, tapi fitnes dan aerobik sampai sekarang berjalan. Justru dari usaha itu kami hidup,” kata Hadianti.

Pada saat ini, Hadianti tinggal bersama anak perempuan, Ana Melinda dan dua cucu perempuannya, Apriliani (5) dan Dinda (2). Sedangkan anak lelakinya, Acep Munir dan keluarganya hanya sesekali bertandang pada akhir pekan.

Menurut Hadianti, pemagaran itu dilakukan pria bernama Ruli pada 2019. Namun saat itu, Munir dan keluarganya masih bisa keluar masuk rumah dengan mudah karena masih diberikan akses yang cukup untuk sepeda motor dan orang.

Masalah muncul pada Februari 2021, ketika banjir besar melanda kawasan tersebut. Rumah Hadianti kebanjiran hingga hampir dua meter karena letaknya yang berada di bawah jalan. Arus air lantas menjebol pagar yang retak karena pernah tertabrak mobil dari seberang jalan.

“Besoknya orang itu datang, saya ditodong golok. Saya syok, untung saya masih diberikan kesempatan hidup. Saya penderita jantung, kaget trauma hingga saat ini,” kata Hadianti.

Ruli marah karena menduga keluarga Hadianti sengaja merobohkan pagar tersebut. Ruli kemudian menutup akses jalan itu sehingga keluarga Hadianti tak bisa keluar masuk rumah, kecuali dengan melompati pagar setinggi 2 meter.

Selama akses jalan mati, Hadianti baru sekali keluar rumah menaiki papan kayu yang disusun menjadi tangga.

“Saya dipapah memanjat tembok itu untuk berobat ke dokter, itu sesekali ya saya keluar rumah,”kata Hadianti.

Anak Hadianti, Acep Munir mengatakan sudah menunjuk kuasa hukum dan telah melaporkan masalah ini ke pihak berwajib. “Kami sifatnya menunggu proses hukum. Semoga ada jalan keluar terbaik,”kata Acep.

Camat Ciledug Syarifuddin mengatakan masalah sengketa lahan ini sudah pernah dimediasikan antara kedua belah pihak, keluarga Munir dan Ruli. Namun belum menemukan titik temu. (bpro)

 

Sumber: Tempo




Tinggalkan Balasan