Amarah dan Gelisah Warga, Prostitusi Hotel Alona Tercium Sejak 2 Tahun Lalu

bantenpro.id

bantenpro.id, Tangerang – Lega bukan main. Itu yang dirasakan Nurdin (bukan nama sebenarnya) ketika melihat bangunan bertingkat dengan dinding putih merah yang ia kenal betul terpampang di layar kaca.

Media arus utama ramai melaporkan penggerebekan prostitusi di Hotel Alona, Kreo Selatan, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.

Nurdin, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan sekaligus tukang kebun, pernah sekali diminta membantu memperbaiki dinding pada bangunan itu.

Tapi yang melekat pada pikirannya ketika melihat Hotel Alona bukan masa-masa ketika dia bekerja di situ.

Sudah hampir dua tahun Nurdin mengaku menyimpan amarah dan kegelisahan. Dia sudah tahu hotel yang dimiliki artis Cynthiara Alona itu dipakai untuk praktik prostitusi yang melibatkan perempuan di bawah umur.

“Jiwa saya berontak. Dari dulu saya ingin ngumpulin teman-teman. Ayo kita gerebek bareng-bareng atau kita cari kekuatan (untuk menghentikan kegiatan prostitusi itu),” ceritanya dengan menggebu-gebu seperti diberitakan CNN Indonesia, Jumat (19/03/2021).

Pertama kali Nurdin tahu ada aktivitas prostitusi di hotel itu ketika dia mendengar cerita dari seorang teman yang pernah bekerja di situ, Parto (bukan nama sebenarnya). Parto bekerja sebagai satpam di hotel itu.

Keduanya baru berteman dekat setelah Parto keluar dari hotel itu dan bekerja menjadi tukang bangunan bersama Nurdin. Dari situ lah Parto mulai mencurahkan cerita dan pengalamannya bekerja di Hotel Alona.

“Nggak mau lagi saya kerja di situ,” cerita Parto kepada Nurdin.

“Kenapa?” tanya Nurdin.

“Nggak ada masalah sih. Tapi saya nggak mau keluarga saya dapat uang yang nggak baik,” jawab Parto.

Parto mengungkap tamu yang datang ke Hotel Alona mayoritas menyewa kamar untuk menikmati jasa prostitusi yang disediakan di sana. Dia cerita pekerja seks yang dikerahkan di sana masih dibawah umur.

“Hah? Umur berapa?” tanya Nurdin terkejut.

“Ada yang saya kenal umur 16 (tahun), 17 (tahun). Ada yang diatas 20 (tahun), tapi jarang. Yang paling muda 14 (tahun),” pungkas Parto.

Parto meyakini cerita yang dia ungkapkan benar. Pasalnya, dia sendiri pernah berupaya menyewa salah satu pekerja seks ketika mengaku tengah khilaf. Namun dia terkejut ketika tahu pekerja seks yang dia sewa tidak pernah melakukan hubungan seks.

Menurut cerita Nurdin, lantas Parto menanyakan kenapa pekerja seks yang ia sewa itu bekerja di Hotel Alona jika tidak pernah berhubungan seks. Pekerja seks itu mengaku awalnya tak tahu akan dipekerjakan sebagai pekerja seks.

“Ya sudah saya nggak jadi. Saya bilang, sudah ini (uang) buat jajan kamu saja,” tutur Parto.

Parto bercerita biaya menyewa pekerja seks di sana dibanderol antara Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Semakin muda usia pekerja seks, bayarannya akan lebih mahal.

Karena Parto merupakan pekerja di sana, dia diberi potongan harga sebesar Rp50 ribu. Ketika pelanggan lagi sepi, pekerja bahkan bisa menyewa pekerja seks dengan harga Rp100 ribu.

Cerita Parto membuat hati Nurdin panas. Selama ini dia mengaku sering melihat pasangan berusia muda masuk ke hotel itu. Tapi ia tak pernah berpikir yang dia saksikan adalah aktivitas prostitusi.

Lambat laun, kata dia, aktivitas prostitusi di Hotel Alona merajalela seiring kian banyaknya jumlah pelanggan. Kabar mengenai kegiatan prostitusi di hotel itu pun mulai menyebar di kalangan tetangga.Kabarnya sampai ke telinga ketua RT hingga kelurahan.

Buntutnya, sebelum Ramadan tahun lalu, Hotel Alona sempat didatangi ketua RT, petugas keamanan dan bintara pembina desa (babinsa). Namun teguran tak digubris pihak pengelola hotel.

Kejadian itu dibenarkan Kepala RT 04 Sentanu. Dia bercerita saat itu dia diarahkan oleh kelurahan untuk menindak kegiatan di hotel yang berada tak jauh dari rumahnya itu. Niatnya ingin meminta pihak hotel menghentikan kegiatan prostitusi.

“Tapi dari pihak (hotel) Alona tidak meladeni. Seolah-olah kita (diminta) silahkan keluar,” tuturnya dikutip bantenpro.id dari CNN Indonesia.

Sentanu mengaku kegiatan di Hotel Alona banyak membuat masyarakat gusar. Terlebih karena pekerja seks di sana masih dibawah umur dan kerap kali tak tahu akan dipekerjakan menjadi pekerja seks.

Ia bercerita sempat mendapati aduan dari seorang calon pekerja seks yang masih berusia 19 tahun. Dia mengaku melamar kerja di tempat tersebut dengan ekspektasi akan menjadi pegawai hotel.

Ketika tahu diminta menjadi pekerja seks, calon pekerja itu menghadap ke Sentanu. Sentanu mengatakan calon pekerja itu langsung dibantu pulang keesokan harinya.

Dalam beberapa kesempatan, ia juga mendapat laporan dari yayasan penyalur pembantu yang mengeluhkan pekerja mereka dipekerjakan oleh Hotel Alona dan tidak kembali ke yayasan mereka.

Sehingga ketika hotel itu digerebek aparat, Sentanu sudah tak kaget lagi dengan kegiatan yang ada di dalam hotel. Ia mengatakan tempat itu sudah terkenal di kalangan warga RT04/RW01.

Pintu utama hotel itu kini dipasang tanda bertuliskan ‘Tutup’. Seorang penjaga yang enggan diwawancara mengatakan hotel itu sudah tutup sejak kemarin.

Sebelumnya Polda Metro Jaya melakukan penggeledahan di Hotel Alona setelah Cynthiara Alona ditetapkan tersangka kasus dugaan prostitusi.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Yusri Yunus mengatakan polisi menemukan 30 kamar hotel itu terisi anak-anak dibawah umur dan pria ketika penggeledahan dilakukan.

“Korban ada 15 orang, semuanya anak dibawah umur, rata-rata umur 14 sampai 16 tahun. Ini yang jadi korban,” tuturnya.

Polisi juga turut menetapkan dua tersangka lain, yakni DA selaku muncikari dan AA selaku pengelola hotel. Ketiganya dijerat dengan UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 296 KUHP dan/atau Pasal 506 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara. (bpro)

 

Sumber: CNN Indonesia

 




Tinggalkan Balasan