Mobil Damkar Tak Bisa Masuk, Estafet Padamkan Api Pakai Ember

bantenpro.id

bantenpro.id, Tangerang – Raungan sirine dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) memecah kesunyian pada Jumat (14/05/2021) dini hari tadi. Petugas damkar menuju Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, memenuhi panggilan tugas.

Meski masih dalam suasana Lebaran, semangat petugas pemadam api itu tak lantas padam. Mereka tetap semangat berkejar-kejaran dengan waktu dan api yang membakar rumah warga di sana. Petugas yang didatangkan ini berasal dari Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Periuk.

Petugas damkar langsung membelokkan mobil brandweer ke arah Kampung Gebang RW 02 RT 01 Kelurahan Gebang Raya. Tetapi, mobil damkar tak bisa masuk menjangkau lokasi kebakaran. Sempitnya jalan masuk membuat dua ‘gajah merah’ itu tertahan di mulut gang RW 02.

Petugas damkar tak menyerah. Sembilan orang pemadam turun dari mobil dan merangsek ke lokasi kebakaran. Rumah warga yang terbakar adalah milik Haji Nawi. Dari kejauhan api sudah terlihat memerahkan langit di malam itu.

Komandan Regu Damkar Fahrizal menceritakan mobil damkar tertahan pada jarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Akhirnya dengan bantuan warga setempat dan dengan peralatan seadanya, upaya pemadaman pun dilakukan.

Petugas terpaksa tak bisa menggunakan selang untuk memadamkan api. Ember pun jadi pilihan. Bersama warga setempat, petugas bahu membahu, bekerja sama memadamkan api. Secara estafet, mereka berbaris menggunakan air dalam ember untuk disiramkan ke sumber api. Upaya itu membuahkan hasil. Api berhasil padam.

“Bangunan yang terbakar milik Haji Nawi sekaligus rumahnya dijadikan warung, tapi warungnya dapat kami selamatkan. Yang terbakar hanya bagian dapur dan ruang tengahnya,” kata Fahrizal kepada bantenpro.id, Jumat (14/05/2021).

Fahrizal mengatakan, kebakaran terjadi sekitar pukul 02.15 WIB. Api berasal dari kamar belakang dan diketahui oleh warga yang sedang berkumpul di saung belakang rumah. Kerugian ditaksir mencapai Rp100-an juta.

Menurut Eman, warga setempat, penyebab kebakaran diduga disebakan dua kemungkinan. Pertama karena korsleting listrik. Kedua, karena tindakan anak pemilik rumah yang dikabarkan memiliki keterbelakangan mental sejak 8 tahun lalu.

Menanggapi kejadian ini, Kepala UPT Damkar Periuk Syahrial mengatakan, sudah saatnya Kota Tangerang memiliki hydrant pada titik-titik tertentu terutama di pemukiman padat penduduk.

“Iya saya sih berharap dinas terkait sudah harus memikirkan ketersediaan hidran di pemukiman padat penduduk atau di titik tertentu selain mempercepat layanan penyelamatan kebakaran,” katanya.

Selain itu, kata Syahrial, sumber air alam di sungai atau danau kondisinya agak surut di musim kemarau.

“Jadi kalo ada hydrant, unit pemadam tidak harus bolak-balik cari sumber air,” katanya. (bpro)




Tinggalkan Balasan