Pabrik Tanpa Hidrant Terbakar di Jatiuwung, Kerja Damkar Terhambat

BANTENPRO.ID, TANGERANG – Kebakaran terjadi di pabrik busa milik PT Foamindo Industri, Kamis (29/10/2020). Api dengan cepat membakar busa hasil produksi pabrik yang berlokasi di Jalan Telesonik No 120, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, itu sejak pukul 16.00.

Informasi yang diterima BANTENPRO.ID, kebakaran pertama kali diketahui oleh karyawan pabrik yang curiga listrik mendadak padam. Karyawan bernama Asif dan Pramod ini kemudian mengecek dan mencari tahu penyebab padamnya aliran listrik.

Keduanya mendapat laporan dari sekuriti pabrik bahwa di salah satu tempat perbaikan busa terjadi kebakaran. Kedua karyawan yang menjabat sebagai asisten manajer itu pun mengecek untuk memastikan kebenarannya.

Benar saja, di ruang repair bus terlihat kepulan asap tebal disertai kobaran api. Keduanya kemudian berusaha memadamkan api dengan alat pemadam api ringan.

Namun, usaha keduanya gagal karena pintu ruangan terkunci. Sekitar 40 menit kemudian, petugas pemadam kebakaran datang ke lokasi.

“Jumlah petugas yang diterjunkan sebanyak 75 orang dengan unit pemadam sebanyak 8 unit dari Kota Tangerang dan 3 unit dari Kabupaten Tangerang,” kata sumber BANTENPRO.ID di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang.

Api mulai dapat dikendalikan sekitar pukul 20.00 setelah petugas pemadam menggunakan air dengan campuran foamliquid.

“Iya, karena yang terbakar mengandung bahan kimia maka pemadamannya menggunakan campuran kimia,” kata salah seorang perwira damkar di lokasi kejadian.

Petugas cukup kesulitan melakukan pemadaman karena pabrik milik warga Filipina itu tidak dilengkapi dengan hidrant. Akibatnya, petugas damkar berusaha mencari sumber air di lokasi lain yang memakan waktu dan cukup menghambat proses pemadaman. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Di bagian lain, Kepala UPT BPBD Damkar Periuk Syahrial mengimbau kepada para pengusaha di wilayahnya untuk melengkapi sarana proteksi kebakaran di tempat usaha. Apalagi bagi perusahaan yang memiliki risiko tinggi terjadi kebakaran.

“Untuk melengkapi sarana proteksi kebakaran memang dibutuhkan biaya lumayan. Tapi demi menjaga aset dan nyawa manusia yang ada di dalam pabrik, saya rasa biaya tersebut tidak harus disebut mahal,” kata Syahrial. (red/bpro)